Management Green Bay manipulasi surat kematian A Fuk

0
62

manipulasi-gunungpokerLiputanLive.com – Buntut kematian Ferrardy Richie Chayono alias A Fuk (7) di taman kolam renang Green Bay Pluit, Jakarta Utara. pada 22 Agustus 2016 lalu meninggalkan banyak kejanggalan yang tidak lazim. Misalnya adanya taman kecil dan pendek di dalam kolam renang anak.

Taman itu terlihat sangat mudah dinaiki anak-anak, yang tak menyadari jika di area taman kecil itu terdapat aliran listrik. Hal ini terlihat jelas ketika wartawan Amunisi pada jumat (9/9) melihat kolam renang dan taman yang masih diberi garis polisi (police line).

Orang tua korban Yessica Anggrainy masih terlihat berduka dan merasa kecewa atas tanggung jawab pengelola Green Bay yang sangat lambat dan terkesan tak mau bertanggung jawab atas kelalaian yang menyebabkan orang lain meninggal dunia.

“Bayangkan, anak saya hingga 30 menit tersetrum di situ, karena pihak pengelola tidak berhasil mematikan strum yang ada di taman, ” jelas Yessica saat ditemui Amunisi. “Di situ terlihat jelas k elalaian pengelola kurang memperhatikan keselamatan pengunjung dan kurang menguasai sistem pengamanan strum taman dan kolam renang akhirnya mengakibatkan anak saya Afuk jadi meninggal disitu, ” urai Yessica.

gunungpoker agen poker online tanpa robotLebih ironis lagi, Yessica disodorkan surat kematian dari Kelurahan Pluit, Jakarta Utara oleh Chandra dari manajemen Green Bay, saat di rumah duka Heaven. Tanpa disadari oleh Yessica tertulis penyebab kematian anaknya disebut karena sakit. “Padahal semua orang tahu anak anak saya meninggal karena tersengat strum,” keluh Yessica.

Dari lembar surat kematian tersebut ada indikasi pihak Green Bay mencoba memanipulasi fakta dalam upaya terlepas dari masalah hukum. Sayangnya, Evi, General Manager (GM) Green Bay saat dikonfirmasi tidak berada di tempat. “Bu Evi sedang ada kegiatan karena kantor ini tengah melakukan audit dari kantor pusat,” kata seorang wanita resepsionis.

Sementara Chandra yang menyodori surat kematian kepada Yessica tak mau menemui Amunisi untuk menjelaskan mengapa isi surat kematian menyebut korban meninggal karena sakit. Apakah dia tidak mengetahui ada peristiwa yang menyebabkan bocah meninggal dunia karena tersengat listrik

Sementara dokumen di surat kematian yang berada di kelurahan Pluit  belum ditandatangani oleh Yessica. Hal ini kian menguatkan bahwa ibu korban bukan pihak yang mengajukan permohonan sehingga dengan seenaknya pihak kelurahan menyebut korban tewas karena sakit.

Kejanggal pelaporan kematian dari Kelurahan Pluit, ini mengundang kecurigaan. Terlebih, Abdul Malik , staf kelurahan, dikonfirmasi Amunisi (5/9) menyebut surat tersebut belum terdata di komputer dan masih berbentuk tulisan tangan,” katanya sambil menyebut yang berhak memberikan keterangan adalah Yudi, Kepala Dukcapil. “tapi, Pak Yudi sedang keluar,” kata Abdul malik. Arsip Formulir Pelaporan Kematian tersebut hanya ditanda tangani Lurah Pluit, Ponisih.

Kanit Reskrim Polsek Penjaringan Kompol Bungin M. dihubungi di kantornya mengatakan kasus ini masih dalam proses penanganan. “Kita sudah memintai keterangan saksi ahli dan beberapa saksi lainnya,” katanya.

Sementara dia hanya terperangah ketika disodorkan bahwa isi surat kematian yang dikeluarkan oleh Kelurahan Pluit menyebut korban meninggal dunia karena sakit. Padahal pihak RSCM sudah melakukan otopsi. “Hubungi saja pak Bowo, tim saya yang menangani kasus ini,” kata Kompol Bungin.

Pihak RSCM membenarkan sudah melakukan dua kali  otopsi. Otopsi luar dan otopsi dalam.  Hasil otopsi sudah diberikan kepada penyidik. “Kami tak bisa memberikan keterangan hasil otopsi.  Hubungi saja dokternya,’ kata seorang petugas.

Kalau benar hasil otopsi sudah berada di tangan penyidik dan hasilnya berbeda dengan surat pelaporan kematian, polisi bisa saja mendalaminya karena ada dugaan manipulasi fakta.

LEAVE A REPLY